“Hukum Ungkapan Kebebasan Berfikir” ketegori Muslim.

Hukum Ungkapan Kebebasan Berfikir

Kategori Propaganda Sesat

Jumat, 1 April 2005 07:05:48 WIB

HUKUM UNGKAPAN KEBEBASAN BERFIKIR

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dita : Kami sering mendengar dan membaca ungkapan à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œKebebasan berfikirà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ , yaitu suatu ajakan kebebasan menganut keyakinan. Apa tanggapan anda mengenai hal itu ?

Jawaban
Tanggapan kami bahwa orang yg membolehkan seseorang bebas menganut keyakinan dgn meyakini agama yg dia inginkan ; maka dia telah kafir krn setiap orang yg berkeyakinan bahwa seseorang boleh saja beragama dgn selain agama Muhammad Shallallahu à ¢Ã¢”š ¬Ã‹Å“alaihi wa sallam, maka berarti dia telah kafir terhadap Allah Subhanahu wa Taà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢ala, hrs dipaksa bertaubat ; bila dia bersedia, maka dia selamat dari hukum dan bila tdk, maka dia wajib dibunuh.

Agama-agama bukanlah pemikiran akan tetapi mrpk wahyu dari Allah yg dia turunkan kpd para RasulNya sehingga hambaNya berjalan diatasnya. Ungkapan seperti ini yakni ucapan à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œberfikirà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ yg maksud terhadap agama, wajib dihapus dari kamus buku-buku Islami krn dpt mengarah kpd makna yg rusak (tdk benar), yaitu terhadap Islam dikatakan à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œpemikiranà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ , terhadap Nashrani dikatakan à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œpemikiranà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ dan terhadap Yahudi dikatakan à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œpemikiranà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ , maka hal itu dpt menyebabkan status syariat-syariat ini hanyalah mrpk produk pemikiran bumi yg dpt dianut oleh siapa saja dari kalangan umat manusia padahal realitas bahwa agama-agama samawi ialah agama-agama samawi yg berasal dari Allah Subhanahu wa Taà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢ala yg diyakini oleh manusia bahwa ia ialah wahyu yg berasal dari Allah, yg dgn para hambaNya beribadah kpdNya sehingga tdk boleh diungkapkan sebagai pemikiran.

Ringkas jawabannya, bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa boleh hukum bagi seseorang untuk menganut agama apa saja yg dia kehendaki dan bahwa dia bebas di dalam memilih agama ; maka dia telah kafir krn Allah Subhanahu wa taà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢ala berfirman.

à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œArti : Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tdklah akan diterima (agama itu) daripadanyaà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ [Ali-Imran : 85]

Dan firmanNya.

à ¢Ã¢”š ¬Ã…”œArti : Sesungguh agama (yg diridhai) di sisi Allah hanyalah Islamà ¢Ã¢”š ¬Ã‚ [Ali-Imran : 19]

Oleh krn itu, tdk boleh seseorang berkeyakinan bahwa agama selain Islam ialah boleh, bagi manusia boleh beribadah melaluinya. Bahkan bila dia berkeyakinan seperti ini, maka para ulama telah secara jelas-jelas menyatakan bahwa dia telah kafir yg mengeluarkan dari agama ini (Islam).

[Majmu Fatawa wa Rasaà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢il Fadhilah Asy-Syaikh Ibn Utsaimin, juz III, hal.99-100]

[Disalin dari bukuAl-Fatawa Asy-Syarà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢iyyah Fi Al-Masaà ¢Ã¢”š ¬Ã¢”ž ¢il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Terbitan Darul Haq]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1392&bagian=0

Sumber Hukum Ungkapan Kebebasan Berfikir : http://alsofwah.or.id